Pendekatan kepemimpinan yang membumi kembali ditunjukkan Bupati Merangin M. Syukur saat melakukan kunjungan kerja ke wilayah komunitas adat terpencil Suku Anak Dalam (SAD) di kawasan Dam Betuk, Desa Tambang Baru, Kecamatan Tabir Lintas. Tanpa sekat protokoler, Bupati memilih duduk bersinggung lutut bersama warga, menciptakan suasana dialog yang hangat dan setara.
Momen tersebut menjadi simbol kuat hadirnya negara di tengah masyarakat adat. Tidak ada jarak kekuasaan, tidak ada formalitas berlebihan. Bupati M. Syukur terlihat menyatu dengan warga SAD, mendengarkan langsung aspirasi dan kebutuhan mereka di bawah rindangnya pepohonan kawasan Dam Betuk.
Sikap itu mendapat apresiasi langsung dari Tumenggung Jon, tokoh adat Suku Anak Dalam Desa Mentawak. Di hadapan rombongan, ia menyebut Bupati Merangin sebagai “Rajo yang bijak”, sebuah ungkapan adat yang bermakna pemimpin yang arif, dekat dengan rakyat, dan layak diikuti arah kebijakannya.
Tumenggung Jon menegaskan bahwa sikap rendah hati dan kesediaan Bupati duduk sejajar dengan warga merupakan hal yang jarang terjadi. Menurutnya, selama ini tidak banyak pemimpin yang benar-benar mau hadir dan berbincang langsung dengan komunitas SAD tanpa sekat dan kepentingan simbolik.
“Kalau pemimpin sudah mau duduk bersama kami seperti ini, kami percaya dan mau mengikuti arahannya,” ujar Tumenggung Jon, yang disambut anggukan warga. Pernyataan tersebut menjadi sinyal dukungan moral masyarakat adat terhadap arah pembangunan yang digagas Pemerintah Kabupaten Merangin.
Kunjungan tersebut juga merupakan bagian dari agenda bersama Direktorat Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil (PKAT) Kementerian Sosial RI. Fokusnya adalah meninjau langsung kondisi lapangan serta merancang langkah pemberdayaan yang lebih berpihak pada keberlanjutan hidup komunitas adat.
Bupati M. Syukur dalam kesempatan itu menegaskan bahwa pembangunan Merangin tidak boleh meninggalkan siapa pun, termasuk masyarakat adat. Pemerintah daerah, kata dia, berkewajiban memastikan akses pelayanan dasar, pendidikan, dan kesejahteraan dapat dirasakan secara adil oleh seluruh lapisan masyarakat.
Pendekatan dialogis dan humanis tersebut dinilai sebagai contoh kepemimpinan yang tidak sekadar administratif, tetapi juga menyentuh sisi sosial dan budaya. Duduk bersinggung lutut bukan sekadar gestur, melainkan pesan bahwa pemerintah hadir sebagai mitra, bukan penguasa yang berjarak.
Apa yang terjadi di Dam Betuk menjadi potret bahwa pembangunan yang efektif berangkat dari kepercayaan. Ketika pemimpin mau merendahkan ego kekuasaan dan mendengar langsung suara akar rumput, maka arah kebijakan yang lahir memiliki legitimasi sosial yang kuat—sebagaimana tercermin dari sikap terbuka masyarakat Suku Anak Dalam Merangin.
Red.
Posting Komentar